ADVERTISMENT

Info

Mengenal Potensi Budidaya Rami, Tanaman Nyaris Tanpa Limbah

Artikel ditulis olehWisnu Saputro

Rami (Boehmeria nivea Gaud) merupakan tanaman yang memiliki potensi tinggi. Serat rami dapat diolah menjadi kain fashion berkualitas tinggi, karena memiliki karakter mirip dengan serat kapas. Selain itu, serat rami merupakan bahan untuk pembuatan selulosa berkualitas tinggi (selulose Ö).

Daunnya merupakan bahan kompos dan pakan ternak yang bergizi tinggi, kayunya baik untuk bahan bakar. Kayu dan serat rami dapat diolah menjadi pulp berkualitas tinggi sebagai bahan baku pembuatan aneka jenis kertas berharga.

Kebutuhan rami dunia yang mencapai ± 500.000 ton/tahun pada tahun 2010 hanya dipenuhi oleh Cina sebesar 280.000 ton (56%), sisanya dari Brazil dan Filipina dengan persentase yang sangat kecil.

olahan rami

Di Indonesia, potensi pengembangan rami sangat tinggi karena kebutuhan serat untuk substitusi kapas cukup tinggi, telah tersedia varietas unggul dan benih yang bermutu tinggi serta lahan luas yang sesuai untuk pertumbuhan rami.

Namun demikian, masih ditemukan beberapa kendala dalam pengembangan rami antara lain varietas dan benih yang digunakan belum murni, lokasi pengembangan umumnya jauh dari sarana transportasi, belum tersedia alat dekortikator yang memadai, kelembagaan yang ada belum sesuai, kejelasan pasar dan kepastian harga serat rami belum banyak diketahui, pengembangan rami baru menguntungkan setelah tahun ke tiga, mesin yang digunakan oleh pabrik tekstil tidak sesuai karena merupakan mesin pengolah kapas (serat pendek).

Pengembangan rami dapat berhasil dan berkesinambungan apabila tersedia strategi pengembangan rami yang konstruktif meliputi intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan kelembagaan.

Intensifikasi terdiri atas penggunaan varietas unggul dan benih bermutu tinggi, serta aplikasi teknik budidaya yang tepat mulai persiapan lahan hingga pengolahan serat.

Ekstensifikasi adalah perluasan lahan untuk memenuhi kebutuhan serat rami nasional, baik untuk substitusi serat kapas maupun untuk diversifikasi produk terutama untuk pulp, selulosa dan komposit. Strategi pengembangan rami tersebut akan lebih efisien apabila telah terbentuk kelembagaan dan kejelasan pemasaran.

Pengembangan rami (Boehmeria nivea Gaud) telah lama dilakukan oleh masyarakat Indonesia, yaitu sejak zaman pemerintah Kolonial Belanda.

Pada saat itu serat rami digunakan sebagai suplemen kapas untuk industri tekstil. Serat rami didiskripsikan mirip dengan serat kapas dengan beberapa kelebihan, yaitu serat lebih panjang, kekuatan serat lebih besar, daya serap air juga lebih besar.

rami

Namun demikian, serat rami lebih kasar dan daya mulurnya lebih rendah dibandingkan karakter yang dimiliki serat kapas. Sidang tahunan WTO bulan Desember 2005 menetapkan mulai tahun 2006 subsidi ekspor kapas negara maju dicabut secara bertahap.

Pencabutan subsidi ekspor kapas tersebut akan berdampak terhadap berkurangnya konsumsi kapas sehingga harga meningkat dan biaya produksi industri menjadi tinggi. Sementara produksi serat kapas dalam negeri baru mencapai 2-4%.

Peningkatan produksi kapas sulit dicapai mengingat tanaman kapas sangat rentan terhadap hama/penyakit serta memerlukan bio fisik lingkungan tertentu (Plantus, 2010). Kondisi tersebut membuka peluang untuk pengembangan rami sebagai suplemen kapas.

Teknologi yang semakin maju saat ini, membuka peluang untuk memanfaatkan serat rami tidak hanya untuk bahan baku tekstil. Serat rami dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan komposit yang ramah lingkungan dan berpotensi menggantikan logam dan plastik.

Komposit serat rami dapat digunakan untuk pembuatan aksesories interior dan eksterior kendaraan bermotor, seperti modifikasi bemper dengan variasi geometri dan pewarnaan.

Mulai tahun 2010, serat rami juga digunakan sebagai bahan bioplastik yang ramah lingkungan pada industri mobil Toyota (Anonim, 2010). Pengembangan rami akan lebih menguntungkan apabila limbahnya dimanfaatkan.

Sebagai contoh limbah serat rami pendek dimanfaatkan untuk membuat kertas berkualitas tinggi antara lain kertas uang dan kertas rokok.

Limbah daun rami sebagai pakan ternak dan limbah dekortikasi dapat digunakan sebagai bahan baku pulp, kompos, particle board, dan media untuk penanaman berbagai komoditas pertanian antara lain jamur merang dan strawberry.

Pada tahun 2005, produksi serat rami dunia mencapai 280.000 ton, sebagian besar berasal dari negara Cina. Serat rami yang dihasilkan digunakan oleh negara itu sendiri dan hanya sedikit yang mencapai pasar Internasional (FAO, 2009).

Data dari Alibaba.com (2010), perusahaan pemasok serat rami murni paling banyak berada di negara Cina (sebanyak 923 perusahaan), sedangkan di India (64 perusahaan), Hongkong (5 perusahaan), dan Taiwan (1 perusahaan).

Negara-negara seperti Brazil, Filipina, Laos, India, Thailand, Vietnam, dan Indonesia juga membudidayakan rami dalam skala yang tidak terlalu luas. Negara pengimpor serat rami utama adalah Jepang, Jerman, Perancis dan Inggris (FAO, 2009), namun data pengimpor yang tersedia pada statistik FAO tahun 2007 adalah negara Cina, Libya dan Angola (FAO, 2010).

Kebutuhan rami dunia hingga tahun 2010 diprediksi mencapai ± 500.000 ton/tahun. Kebutuhan tersebut dipenuhi oleh Cina sebesar 280.000 ton (56%), sisanya dari Brazil dan Filipina dengan persentase yang sangat kecil.

Di Indonesia, produksi serat rami nasional sebesar 11 ton pada tahun 2007, hanya memenuhi 0,006% konsumsi serat nasional yang mencapai 500 ton/hari.

Berdasarkan kebutuhan rami di pasar dunia maupun domestik, peluang pengembangan rami untuk mensuplei serat sebagai bahan baku tekstil masih terbuka.

Rami merupakan tanaman yang memiliki potensi tinggi (serbaguna). Daunnya merupakan bahan kompos dan pakan ternak yang bergizi tinggi, kayunya baik untuk bahan bakar. Serat rami merupakan bahan yang dapat diolah untuk kain fashion berkualitas tinggi dan bahan pembuatan selulosa berkualitas tinggi (selulose Ö). Kayu dan serat rami dapat diolah menjadi pulp berkualitas tinggi sebagai bahan baku pembuatan aneka jenis kertas berharga.

Pada tahun 1733, rami dikenal sebagai tanaman hias di Kebun Raya di Belanda, setelah satu abad kemudian baru diketahui potensinya sebagai penghasil serat tekstil.

Di Indonesia, tanaman rami sudah lama dibudidayakan, yaitu sejak zaman penjajahan Belanda. Pada saat itu serat rami digunakan sebagai suplemen kapas untuk industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT).

Serat rami didiskripsikan mirip dengan serat kapas dengan beberapa kelebihan yaitu serat lebih panjang, kekuatan serat lebih besar, daya serap air juga lebih besar. Namun demikian, serat rami lebih kasar dan daya mulurnya lebih rendah dibandingkan karakter yang dimiliki serat kapas.

Karakter serat yang kasar dan daya mulur rendah tersebut berkaitan erat dengan sifat fisik dan kandungan bahan kimia yang terdapat pada serat rami.

Untuk memadukan sifat kelebihan dan kekurangan serat rami dengan serat kapas atau bahan baku lain (misal rayon atau poliester), diperlukan perbandingan tertentu sehingga mudah dalam proses pemintalan untuk membuat benang.

Menurut Scruggs and Smith (2010), umumnya serat rami dicampur dengan serat kapas dengan perbandingan 55:45 untuk membuat tekstur kain lebih halus. Campuran tersebut akan lebih baik apabila ditambah dengan poliester karena dapat mengurangi kekusutan dan mempermudah perawatan kain.

Hasil penelitian Balai Besar Tekstil (2007) menunjukkan bahwa campuran serat rami dengan poliester dengan perbandingan 35:65 dan Rami:Poliester:Kapas (40:30:30) menghasilkan indeks mutu benang lebih tinggi dibandingkan benang dari serat rami 100%.

Kain rami nyaman dipakai terutama pada musim panas karena memiliki daya serap yang tinggi. Keistimewaan lain adalah tahan terhadap penodaan dan tahan untuk dicuci dengan air panas (Balai Besar Tekstil, 2007).

Kain rami juga tidak mudah berjamur dan tahan terhadap ngengat sehingga lebih awet disimpan dalam waktu lama (Scruggs and Smith, 2010). Pemanfaatan kain yang berasal dari serat rami umumnya untuk pakaian (jaket, celana, rok, blus), keperluan rumah tangga (korden, sprei, taplak meja, serbet, handuk), benang jahit, kain parasit, kanvas, kain saringan dan masih banyak lagi.

Di Indonesia, salah satu pengusaha di kabupaten Garut telah berhasil memproduksi tekstil dan pakaian eksklusif berbahan baku serat rami.

Daun rami mempunyai kandungan bahan kering 86,80%, bahan organik 86,32%, protein kasar 25,23%, serat kasar 16,13% dan lemak kasar 2,63% sehingga dapat digunakan sebagai pakan ternak.

Hasil penelitian Sudibyo et al. (2007) menunjukkan bahwa penggunaan limbah daun rami sebagai konsentrat dalam pakan lengkap dapat meningkatkan kandungan protein kasar 0,77% dan serat kasar 13,83%, meningkatkan daya degradasi pakan sebesar 1,0-1,8% dan daya cerna sebesar 2,28-3,26%.

Peningkatan proporsi limbah daun rami sebagai bahan konsentrat dalam pakan lengkap dari 15-45% diikuti oleh peningkatan kandungan protein kasar, serat kasar, daya degradasi pakan, dan daya kecernaan pakan.

Penggunaan limbah daun rami sebagai bahan konsentrat dalam pakan lengkap kambing kacang berumur satu tahun menurunkan jumlah pakan terkonsumsi, jumlah feses yang dikeluarkan, dan pertambahan bobot badan masing-masing sebesar 15,96%, 23,43% dan 39,87%.

Peningkatan proporsi limbah daun rami sebagai bahan konsentrat dalam pakan lengkap dari 25-75% diikuti oleh penurunan jumlah pakan terkonsumsi sebesar 2,6-35,1%, jumlah feses yang dikeluarkan sebesar 4,4-50,4%, dan pertambahan bobot badan sebesar 25,6-53,7%.

Seorang pengusaha di Garut, Jawa Barat telah berhasil membuat pakan ternak berupa pellet dengan ukuran diameter 12,5 cm dengan ketebalan 5 cm. Berat masing-masing pellet sekitar 200 g yang dicobakan pada sapi, kambing dan itik.

Cara pembuatan pellet dengan mencampurkan tepung daun rami dan sumber karbohidrat lain seperti tongkol jagung, kemudian difermentasi hingga menjadi silase. Hasil silase ini kemudian dicetak menjadi pellet.

Komposisi antara daun kering dengan sumber karbohidrat lain tidak persis sama karena yang berperan adalah hasil analisis proksimat (proximate analysis) yang terdiri atas kadar protein, lipida, karbohidrat, serat kasar, dan abu yang telah ditetapkan lebih dulu.

Serat rami yang pendek dapat digunakan sebagai bahan baku kertas berkualitas tinggi antara lain kertas uang dan kertas rokok.

Limbah hasil dekortikasi yang berupa potongan-potongan kayu dan kulit rami dapat digunakan sebagai bahan baku pulp. Pembuatan pulp dengan bahan baku limbah dekortikasi rami telah dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas) bekerjasama dengan Balai Besar Selulosa, Bandung.

Dari analisis mutu lembaran pulp putih diketahui bahwa mutu pulp dari limbah dekortikasi rami cukup baik. Hal ini disebabkan oleh kandungan kimia limbah dekortikasi rami masih cukup tinggi.

Limbah dekortikasi juga dapat digunakan sebagai bahan baku kompos. Hasil penelitian di Wonosobo selama lima tahun (2000-2004) menunjukkan bahwa limbah dekortikasi basah sebesar 53%, yang dapat diolah menjadi kompos hanya sebesar 12% dari bobot brangkasan 111.905 kg/ha/tahun (Santoso dan Sastrosupadi, 2008).

Mengingat kandungan unsur hara limbah dekortikasi cukup tinggi yaitu unsur P (0,19%), K (1,02%), Ca (0,93%) dan Mg (0,40%), maka kompos yang dihasilkan mempunyai kandungan nutrisi tinggi sehingga sangat bermanfaat bagi tanaman lain. Kandungan hara kompos limbah dekortikasi rami lebih lengkap bila dibandingkan dengan kompos sisa pangkasan teh dan kulit buah kakao.

Pada pengembangan rami, selain keuntungan dari produksi serat dapat diperoleh pula keuntungan ekologis, yaitu konservasi lahan. Hal ini berkaitan dengan tanaman rami yang memiliki vegetasi rapat dan perakaran dalam sehingga dapat mencegah erosi dan banjir.

Daun-daun rami yang gugur di sekitar lahan pengembangan dapat berfungsi sebagai pupuk hijau untuk memelihara atau meningkatkkan kesuburan tanah. Pengembangan rami di lahan kritis dapat meningkatkan volume air tanah sehingga pada musim kemarau masih tersedia air. Lahan kritis yang ditanami rami tersebut berubah menjadi lahan produktif hanya dalam waktu 5-6 bulan.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan juragan lainnya.

Artikel Terkait

ADVERTISMENT

AnekaUKM - One-stop Solution for SMEs

Copyright © 2024 AnekaUKM. All rights reserved.